Rabu, 07 Maret 2012

BIO-SLURRY: TERLUPAKAN DAN POTENSI DI PERTANIAN

Mendengar kata Bio-slurry seakan-akan asing bagi telinga kita apalagi insan peternakan dan pertanian di Indonesia.  Bio-slurry sebenarnya sudah hadir sejak program biogas diterapkan di bumi Indonesia sejak tahun 1980 an.  Biogas dihasilkan melalui suatu proses pengolahan limbah dengan syarat tertentu yang dicontohkan berupa campuran berbahan baku kotoran ternak dan air dengan perbandingan tertentu.  Kemudian sekitar 50 - 60 hari berdiam di dalam reaktor melalui proses fermentasi an-aerobik (tanpa oksigen) sehingga menghasilkan produk gas metan dan produk lain hasil fermentasi bernama Bio-slurry.

Terlupakan dan tanpa pengembangan berarti sampai dengan tahun 2010,  awalnya bio-slurry hanya dikenal oleh kalangan terbatas peternak sapi, terutama sapi perah sebagai produk berupa pupuk organik biasa yang mungkin dikonotasikan sama halnya dengan kotoran sapi yang bernutrisi rendah, sehingga posisi bio-slurry terasa terpinggirkan.  Terlebih dengan tidak ada program yang khusus dari pemerintah khususnya dari Kementrian Pertanian untuk meneliti dan mendalami kandungan nutrisi dan mikroba pro-biotik serta percobaan lapang dengan menggunakan bio-slurry pada tanaman pangan, hortikultura dan tanaman pakan.  Sehingga dengan ketidak tahuan manfaat dari bio-slurry maka masyarakat petani dan utamanya peternak banyak yang membuang bio-slurry ke saluran air/irigasi.
     
Bio-slurry secara perlahan dikenalkan ke masyarakat petani dan peternak sejak pertengahan tahun 2010 melalui proses training pemanfaatan dan demo-plot bio-slurry yang dilakukan oleh program BIRU (Biogas Rumah).  Hasil penelitian laboratorium dan uji di lapangan  yang telah dilakukan menunjukkan kandungan nutrisi dan mikroba pro-biotik di dalam bio-slurry tidak sekedar sebagai pupuk organik biasa, namun bisa juga menjadi:
1.  Agen penyubur lahan (recovery land) seperti:
     a.  Kandungan Asam Humat sekitar 10 - 20%.
     b.  Kandungan C-organik sekitar 14 - 17%.
2.  Bio-pestisida, karena mempunyai kandungan anti-mikroba di dalamnya.
3.  Pupuk hayati (bio-fertilizer) karena mengandung mikroba Pro-Biotik seperti:
     a.  Mikroba selulitik atau agen pengomposan. 
     b.  Mikroba penambat Nitrogen (N).
     c.  Mikroba pelarut Phosphat (P).
4.  Pendukung pertumbuhan vegetatif dalam bentuk nitrogen tersedia dalam 
     bentuk N-NH4 (Ammonium).
5.  Pendukung penampilan tanaman seperti kulit kacang yang tebal (peran 
     Calcium), anti mati pucuk dan meratanya biji jagung per tongkol (peran 
     Boron).
5.  Pengatur pertumbuhan tanaman seperti halnya hormon tanaman (Auksin,
     Sitokinin, dll). 

Nah, tentunya dengan melihat analisa kandungan bio-slurry maka sudah tidak diragukan lagi bio-slurry merupakan pupuk organik lengkap dan berkualitas tinggi yang baik bagi pemulihan lahan yang terkontaminasi dengan pupuk non organik dan menambah mikro flora dan fauna pro-biotik di dalam tanah.  Hasil testimoni di beberapa pengguna biogas (user) di 8 propinsi  dari Program BIRU yang telah menggunakan bio-slurry menunjukkan hasil yang menggembirakan yaitu:
1.  Lahan semakin remah dan nutrisi menjadi mudah tersedia
2.  Tanaman menjadi sehat dan produktif
3.  Ada perbaikan kuantitas dan kualitas hasil panen contoh:
     a.  Panen lebih cepat
     b.  Bobot per hasil tanaman meningkat
     c. Jumlah buah per tanaman meningkat 
    d.  Pemanenan hasil lebih lama 
    e.  Meningkatkan daya simpan di gudang/transportasi dari lahan pertanian ke pasar.



  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar